Kamis, 08 Mei 2014

MENGAJARKAN CALISTUNG PADA USIA PAUD

Keberhasilan manusia secara utuh ditentukan 6 tahun pertama pada awal kehidupannya. Enam tahun pertama inilah yang biasa disebut dengan usia golden age. Namun perlu diingat untuk mengoptimalkan usia emas ini dalam memberikan stimulus haruslah sesuai dengan tahap perkembangan dan kecenderungan. sudah tentu tidak lah sama dengan anak-anak yang telah berusia di atasnya. Maka pemerintah perlu menggalakkan pendidikan anak usia dini agar apa yang dicita-citakan terwujud.
pada usia 0-2 tahun diberi pelayanan di taman pos yandu 3-4 di Kelompok Bermain dan 5-6 di Taman Kanak-Kanak. Dalam hal ini pemerintah memiliki tujuan yang mulia, namun jangan sampai strategi menjamurnya Pendidikan Anak Usia Dini menjadi momok kehancuran masa depan manusia. bagaimana bisa?
Masalah umum yang dihadapi lembaga PAUD di Indonesia, banyak faktor yang membikin lembaga salah praktik kepada anak didiknya. terkadang pengelola dan pendidik pun tahu kalo strategi yang digunakan salah tapi terpaksa dilakukan yakni CALISTUNG (BACA TULIS DAN HITUNG). Banyak alasan tuntutan dari orang tua "namanya sekolah ya baca nulis dan berhitung...', sekolah kok main terus..."kata-kata yang kerap muncul dari wali murid, ada juga biar lembaganya dibilang bermutu lulus dari Kelompok Bermain sudah bisa menulis dan bisa membaca, bisa bahasa inggris dengan lancar...hebat ya?, ada juga takut nggak laku lembaganya, yang estrim lagi tuntutan dari jenjang atasnya yang memberikan syarat calon siswanya harus sudah bisa baca dan tulis.
Anak yang masa-masanya adalah bermain terenggut dengan rutinitas di sekolah yang memerlukan tenaga otak yang besar, bisa-bisa anak mengalami kram otak. Tidak dipungkiri anak yang diajarkan calistung saat usia PAUD mengalami perkembangan yang pesat saat SD sampai kelas empat namun hal tersebut tidaklah awet ibarat bom karbet lama-lama panas dan meledak karna masuknya dipaksakan pada awalnya.
Lalu bagaimana strategi yang tepat menjawab tantangan tersebut. guru harus kreatif dan pantang menyerah serta konsisten terhadapa ilmu yang diperoleh ada beberapa strategi yang bisa dilakukan oleh guru yangg kebetulan ini saya peroleh dari program SBB (Sekolah Semai Benih Bangsa) dianataranya mengajarkan membaca dengan whole language (bahasa dinding) maksudnya setiap benda kita label tulisan sesuai dengan nama benda tersebut. Manfaatnya strategi ini lebih efektif karena membaca bermakna anak tahu tulisan dan maknanya secara langsung melalui benda yang dilihatnya startegi ini merangsang keingin tahuan anak bacaan-bacaan tulisan di benda-benda yang dilihatnya walaupun terkadang tulisan yang ada tidak menunjukkan nama benda tersebut. membaca yang menyenangkan dan tidak terasa jika ana itu diajari membaca. 
Berbeda dengan metode lama yang menggunakan kata-kata yang tidak bermakna seperti contoh ba ba- ca ba atau seperti waktu kita dulu " ini ibu budi, ini bapak budi dst." anak tidak tahu siapa budi orang mana budi dan kenapa kok budi kok bukan nama dirinya saja?anak bosan dan stress.
Cara yang kedua belajar berbahasa dengan susunan kalimat yang terstruktur dengan strategi Cerita anak atau membaca buku bergambar. Dengan seperti ini anak akan banyak memiliki kosakata-kosakata dan anak belajar menuangkan idenya menggunakan bahasanya. membaca buku yang ada gambarnya memang terkadang anak asal-asalan dan tidak sesuai dengan tulisan yang ada dibuku tersebut namun hal itu merangsang minat dan kecintaannya membaca. bandingkan dengan anak produk lama seperti saya malas membaca tahu manfaatnya namun malas baca karena waktu kecil saya cuma kenal budi dan keluarganya sedangkan saya nggak tahu siapa mereka. saya stres dan bosan dengan budi, jangan-jangan semua buku yang ditulis hanya ceritanya budi.hmmm
Cara yang Ketiga dengan jurnal, jurnal banyak memberi manfaat sebagai pengganti calistung disekolah karena jurnal berisi tentang merangsang motorik halus anak dan mengetahui nama dan tulisan juga berhitung. kegiatan jurnal ada dua macam yakni jurnal menggambar bebas dan jurnal pilihan. jurnal menggambar bebas anak-anak menggambar sesuai imajinasinya masing-masing pada dasarnya menulis huruf, kalimat atau angka adalah dari pola garis lurus, datar dan lengkung dengan menggambar anak-anak akan membuat garis lurus, datar dan lengkung anak juga semakin kuat memegang pensil. Setelah menggambar guru menuliskan apa yang digambar tadi dan anak dibacakan dan diminta menirukan, anak juga diajak menceritakan apa yang suda digambarkannya tadi.
yang kedua jurnal pilihan yang dimaksud jurnal pilihan anak diminta memilih permainan seperti menjahit, meronce, playdough, bermain puzzle. jurnal pilihan ini bisa melatih motorik halus anak, diajak berhitung, mengenal pola dan warna dan mengetahui nama-nama benda atau gambar yang dimainkannya. dengan strategi jurnal ini Insya Allah anak-anak senang tidak stress dan anak mudah menerima pengetahuan-pengetahuan yang guru berikan.       



Tidak ada komentar:

Posting Komentar