Keberhasilan manusia secara utuh ditentukan 6 tahun pertama pada
awal kehidupannya. Enam tahun pertama inilah yang biasa disebut dengan usia
golden age. Namun perlu diingat untuk mengoptimalkan usia emas ini dalam
memberikan stimulus haruslah sesuai dengan tahap perkembangan dan
kecenderungan. sudah tentu tidak lah sama dengan anak-anak yang telah berusia
di atasnya. Maka pemerintah perlu menggalakkan pendidikan anak usia dini agar
apa yang dicita-citakan terwujud.
pada usia 0-2 tahun diberi pelayanan di taman pos yandu 3-4 di
Kelompok Bermain dan 5-6 di Taman Kanak-Kanak. Dalam hal ini pemerintah
memiliki tujuan yang mulia, namun jangan sampai strategi menjamurnya Pendidikan
Anak Usia Dini menjadi momok kehancuran masa depan manusia. bagaimana bisa?
Masalah umum yang dihadapi lembaga PAUD di Indonesia, banyak faktor
yang membikin lembaga salah praktik kepada anak didiknya. terkadang pengelola
dan pendidik pun tahu kalo strategi yang digunakan salah tapi terpaksa
dilakukan yakni CALISTUNG (BACA TULIS DAN HITUNG). Banyak alasan tuntutan dari
orang tua "namanya sekolah ya baca nulis dan berhitung...', sekolah kok
main terus..."kata-kata yang kerap muncul dari wali murid, ada juga biar
lembaganya dibilang bermutu lulus dari Kelompok Bermain sudah bisa menulis dan
bisa membaca, bisa bahasa inggris dengan lancar...hebat ya?, ada juga takut
nggak laku lembaganya, yang estrim lagi tuntutan dari jenjang atasnya yang
memberikan syarat calon siswanya harus sudah bisa baca dan tulis.
Anak yang masa-masanya adalah bermain terenggut dengan rutinitas di
sekolah yang memerlukan tenaga otak yang besar, bisa-bisa anak mengalami kram
otak. Tidak dipungkiri anak yang diajarkan calistung saat usia PAUD mengalami
perkembangan yang pesat saat SD sampai kelas empat namun hal tersebut tidaklah
awet ibarat bom karbet lama-lama panas dan meledak karna masuknya dipaksakan
pada awalnya.
Lalu bagaimana strategi yang tepat menjawab tantangan tersebut.
guru harus kreatif dan pantang menyerah serta konsisten terhadapa ilmu yang
diperoleh ada beberapa strategi yang bisa dilakukan oleh guru yangg kebetulan
ini saya peroleh dari program SBB (Sekolah Semai Benih Bangsa) dianataranya
mengajarkan membaca dengan whole language (bahasa dinding) maksudnya setiap
benda kita label tulisan sesuai dengan nama benda tersebut. Manfaatnya strategi
ini lebih efektif karena membaca bermakna anak tahu tulisan dan maknanya secara
langsung melalui benda yang dilihatnya startegi ini merangsang keingin tahuan
anak bacaan-bacaan tulisan di benda-benda yang dilihatnya walaupun terkadang
tulisan yang ada tidak menunjukkan nama benda tersebut. membaca yang
menyenangkan dan tidak terasa jika ana itu diajari membaca.
Berbeda dengan metode lama yang menggunakan kata-kata yang tidak
bermakna seperti contoh ba ba- ca ba atau seperti waktu kita dulu " ini
ibu budi, ini bapak budi dst." anak tidak tahu siapa budi orang mana budi
dan kenapa kok budi kok bukan nama dirinya saja?anak bosan dan stress.
Cara yang kedua belajar berbahasa dengan susunan kalimat yang
terstruktur dengan strategi Cerita anak atau membaca buku bergambar. Dengan
seperti ini anak akan banyak memiliki kosakata-kosakata dan anak belajar
menuangkan idenya menggunakan bahasanya. membaca buku yang ada gambarnya memang
terkadang anak asal-asalan dan tidak sesuai dengan tulisan yang ada dibuku
tersebut namun hal itu merangsang minat dan kecintaannya membaca. bandingkan
dengan anak produk lama seperti saya malas membaca tahu manfaatnya namun malas
baca karena waktu kecil saya cuma kenal budi dan keluarganya sedangkan saya
nggak tahu siapa mereka. saya stres dan bosan dengan budi, jangan-jangan semua
buku yang ditulis hanya ceritanya budi.hmmm
Cara yang Ketiga dengan jurnal, jurnal banyak memberi manfaat
sebagai pengganti calistung disekolah karena jurnal berisi tentang merangsang
motorik halus anak dan mengetahui nama dan tulisan juga berhitung. kegiatan
jurnal ada dua macam yakni jurnal menggambar bebas dan jurnal pilihan. jurnal
menggambar bebas anak-anak menggambar sesuai imajinasinya masing-masing pada
dasarnya menulis huruf, kalimat atau angka adalah dari pola garis lurus, datar
dan lengkung dengan menggambar anak-anak akan membuat garis lurus, datar dan
lengkung anak juga semakin kuat memegang pensil. Setelah menggambar guru
menuliskan apa yang digambar tadi dan anak dibacakan dan diminta menirukan,
anak juga diajak menceritakan apa yang suda digambarkannya tadi.
yang kedua jurnal pilihan
yang dimaksud jurnal pilihan anak diminta memilih permainan seperti menjahit,
meronce, playdough, bermain puzzle. jurnal pilihan ini bisa melatih motorik
halus anak, diajak berhitung, mengenal pola dan warna dan mengetahui nama-nama
benda atau gambar yang dimainkannya. dengan strategi jurnal ini Insya Allah
anak-anak senang tidak stress dan anak mudah menerima pengetahuan-pengetahuan
yang guru berikan.